Namun, dalam perkelahian yang sesungguhnya, jurus tendangan dan pukulan menduduki peringkat terendah dalam skala kerusakan, sedangkan memiting dan menyikut adalah gerakan paling berbahaya.Jurus memiting leher dari belakang, yang lebih dikenal sebagai sleeper hold, adalah serangan dengan.risiko tertinggi. Demikian dikatakan Vitor Ribeiro, pemegang tiga gelar juara dunia jujitsu Brasil dan instruktur di Modern Martial Arts di New York City.Karate dan kungfu, yang sebagian besar terdiri atas tendangan dan pukulan, tidak menggunakan gerakan memiling leher. Jurus ini digunakan dalam jujitsu, Judo, dan Ilmu bela diri lain yang mene-kankan pada teknik grappling, seperti gulat.
Dalam gerakan ini, penyerang memposisikan dirinya di belakang korban, nie lingkarkan lengannya di leher lawan, mencekik, dan menghentikan aliran oksigen ke otak korbannya. Gerakan Ini membuat korban tak sadarkan diri dan dapat menyebabkan kematian jika cekik-an diteruskan."Anda memang bisa menjatuhkan orang dengan tendangan atau pukulan, tapi kemudian orang itu bangun dan me-nyerang Anda lagi. Dengan satu tangan saja, orang masih bisa berkelahi, kata Ribeiro. "Ketika Anda mencekik seseorang dan melumpuhkannya, membuat orang itu pingsan, terkadang mereka tidak bangun lagi."
Mengingat jurus memiting leher dari belakang ini amat efektif, kata Ribeiro, banyak ilmu seni bela diri mengembangkan gerakan menangkis, yang khusus dirancang untuk menahan jurus itu. Meski demikian, cara paling efektif untuk mencegah manuver itu adalah memastikan diri tak pernah memunggungi lawan.Dalam karate, jurus paling berbahaya adalah menyikut wajah. Ribeiro mengatakan siku jauh lebih keras daripada kepalan, dan satu serangan menggunakan siku memiliki peluang yang lebih besar untuk mengenai lawan dibanding serangan dengan lutut atau tendangan. Dibandingkan dengan pukulan yang dapat membuat kepalan Anda cedera, katanya, menyikut adalah gerakan sederhana yang dapat menciptakan dampak solid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar